Menjelang wafat, Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu menangis. Namun ia bukan menangisi ajal yang akan menjemputnya, tapi : “ Aku menangis hanyalah karena aku tidak akan merasakan lagi rasa dahaga (orang yang berpuasa) ketika hari sangat panas, bangun malam untuk melaksanakan shalat di musim yang dingin dan berdekatan dengan orang-orang yang berilmu saat bersimpuh di halaqah dzikir .” Adakah yang merasakan nikmat di kala haus dan lapar saat berpuasa ? atau salat malam lebih diutamakan di kala dingin dan kantuk? Sungguh beruntung seseorang yang diberi karunia oleh Allah sehingga ia dapat merasakan lezatnya beribadah. Ada rasa iri dan kagum saat melihat seseorang dengan begitu khusyuknya beribadah, dan ia pun istiqamah menjalankannya. Dan ada rasa kasihan saat melihat seorang muslim malas dalam beribadah. apa yang menyebabkan kondisi dua orang di atas begitu berbeda?
Hanya ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman, semoga bermanfaat...