Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2011

Permohonan Maaf

Tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat kesalahan, sesempurna apapun dia, setinggi apapun pendidikan dan status sosialnya. Ada di antara kesalahan tersebut yang disesali, namun juga ada yang dianggap enteng ataupun dilupakan. Padahal meskipun debu itu sangat kecil, namun bila banyak akan merepotkan juga. Permisalannya adalah debu yang menempel pada monitor komputer, bila tidak sesekali dibersihkan, debu tersebut dapat menutupi seluruh permukaan monitor dan mengurangi kejernihan pandangan. Begitu juga halnya dosa-dosa kesalahan terhadap hati. Dosa-dosa tersebut dapat membuat hati menjadi sakit, yang bila tidak dilakukan tindakan "pembersihan" dapat membuatnya mati, sehingga hati tidak mampu lagi mengenali kebaikan dan keburukan. Tulisan ini dimaksudkan untuk menyatakan pengakuan atas dosa-dosa saya. Sekaligus berharap agar semua orang yang pernah saya sakiti berkenan memaafkan kesalahan saya. Sahabat, mohon dimaafkan semua kesalahan dan dosa saya. Jika sampai umur saya d...

Obat dari Penyakit Hati

Di antara obat hasad (iri dengki) adalah menyadari bahwa ia merupakan bentuk penentangan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dengan hikmah-Nya telah memberikan kenikmatan terhadap orang yang didengkinya, sebagaimana ucapan seorang penyair berikut ini. “Jika kalian marah karena apa yang dibagikan oleh Allah di antara kita maka Allah sungguh mengetahui ketika Dia tidak ridha kalian (mendapatkannya).” Selain itu, hasad juga menghadirkan kegundahan, kelelahan hati, dan tersiksanya kalbu dengan sesuatu yang sama sekali tidak bisa merugikan orang yang didengki. Di antara obat ujub (bangga diri) adalah mengingat bahwa ilmu, pemahaman, cemerlangnya pemikiran, kefasihan, dan berbagai kenikmatan lain yang dimilikinya adalah pemberian dan amanah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya. Ia harus menjaga dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Dzat yang menganugerahinya segala kenikmatan itu Mahakuasa untuk mencabutnya dalam sekerjap mata. Hal itu sama sekali tidak sulit bagi-Nya …. Di antar...

Keindahan itu...

Suatu hari, seseorang bertanya kepada al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah, “Wahai Abu Sa’id, pakaian apakah yang paling anda sukai?” Beliau rahimahullah menjawab, “Yang paling tebal, paling kasar, dan yang paling rendah di mata manusia.” Si penanya berkata, “Bukankah ada riwayat bahwasanya ‘Allah itu Mahaindah dan menyukai keindahan?” Beliau rahimahullah menjawab, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya aku telah menganut tidak hanya satu mazhab. Seandainya keindahan di sisi Allah adalah pakaian, niscaya orang-orang fajir (jahat) lebih memiliki kedudukan di sisi-Nya daripada orang-orang yang baik. Hanya saja, keindahan itu adalah mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan amalan ketaatan, menjauhi kemaksiatan, berakhlak mulia, dan berbudi pekerti yang baik. Seperti itu pula hadits shahih yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia.” (Mawa’izh lil Imam al-...

Keutamaan Ilmu atas Harta

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu itu akan menjagamu, sedangkan harta engkaulah yang menjaganya. Ilmu itu semakin berkembang dengan diinfaqkan, sedangkan harta akan berkurang jika dinafkahkan. Ilmu adalah yang mengaturmu, sedangkan harta, engkau yang akan mengaturnya, mencintai ilmu adalah agama yang seorang itu beribadah dengannya. Ilmu akan membuahkan ketaatan di dalam kehidupan pemiliknya serta mengharumkan namanya setelah ia meninggal dunia. Kebaikan para pemelihara harta akan melenyap bersamaan dengan kepergiannya. Para penimbun harta (pada hakikatnya) telah mati (meskipun) mereka itu masih hidup. Adapun para ulama tetap kekal sepanjang masa. Jasad mereka telah tiada, namun kenangan tentang mereka senantiasa melekat di hati manusia.” (Durus fil Qira’ah al-Mustawa ar-Rabi’, hlm. 16) Sumber: Majalah Asy Syariah no. 70/VI/1432 H/2011, rubrik Permata Salaf.

ZAKAT MAAL

Zakat Maal adalah zakat yang dikenakan atas harta yang dimiliki oleh individu atau lembaga dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan secara hukum (syara). Maal berasal dari bahasa Arab yang secara harfiah berarti 'harta'. Firman Allah Ta’ala (yang artinya) : “Hai orang-orang yang beriman nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk kemudian kamu nafkahkan dari padanya padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha terpuji.” (Al-Baqarah : 267). Harta yang akan dikeluarkan sebagai zakat harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Milik Penuh, yakni harta tersebut merupakan milik penuh individu yang akan mengeluarkan zakat. Berkembang, yakni harta tersebut memiliki potensi untuk berkembang bila diusahakan. Mencapai nisab , y...

Ramadhan 1432 H

Ramadhan selalu terasa spesial. Ramadhan kali ini saya lalui di Kota Tanjung, Kalsel, begitu juga dengan lebarannya. Ahh, kota ini menambah koleksiku menjadi 5, setelah sebelumnya merasakan ramadhan di Lampung, Jogja, Magelang, dan Bandung (bukan cuma mampir lho). Selalu ada kesan manis yang ditinggalkan di tiap kota, dan pengalamannya pun berbeda lho. Saat masih menjadi mahasiswa, di Jogja dan Bandung, ketika berbuka (hampir) selalu sudah duduk rapi di masjid menikmati takjil yang disediakan lengkap beserta nasi bungkusnya. Perbedaan di kedua kota tersebut, kalau di Jogja nasi sudah dibagikan sebelum shalat, kalau di Bandung setelah shalat. Nah, di Kalsel sekarang masih tetap jadi anak kost tapi sudah bisa cari uang jajan sendiri. Sekarang lebih memilih berbuka di kost saja ketimbang di Masjid, yah sesekali kangen juga dengan kebersamaan saat masih mahasiswa, perjuangannya itu lho untuk mencari gratisan hehehe....