Ketahuilah setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan
ditanya tentang ra’iyahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5200, 7138 dan Muslim no. 4701
dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu anhu)
Makna ra’in adalah seorang penjaga atau pemimpin, yang
diberi amanah, yang harus memegangi perkara yang dapat membaikkan amanah yang
ada dalam penjagaannya. Ia dituntut untuk berlaku adil dan menunaikan perkara
yang dapat memberi maslahat bagi apa yang diamanahkan kepadanya. (Al-Minhaj
12/417, Fathul Bari, 13/140)
Disadari atau tidak, setiap manusia adalah pemimpin,
setidaknya pemimpin bagi dirinya sendiri. Pemimpin yang akan bertanggung jawab
atas nikmat Allah yang ia terima. Penglihatan, pendengaran, harta, umur, dan
nikmat lainnya. Bertanggung jawab atas penggunaanya. Hal ini ada kaitannya
dengan syukur. Yakin bisa ??
Namun saat ini, ada banyak sekali manusia yang berebut untuk
mengambil tanggung jawab yang besar, Presiden misalnya. Sungguh berani dia ya ?
bila ada rakyatnya kelaparan atau sakit, maka mereka merupakan tanggung jawab
pemimpinnya untuk membantu.
“Tidaklah seorang hamba, yang Allah Subhanahu wata’ala
berikan padanya kekuasaan untuk memimpin rakyat dan meninggal dunia dalam
keadaan meninggalnya berbuat curang terhadap rakyatnya, melainkan Allah
Subhanahu wata’ala haramkan baginya surga.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
“Wahai orang-orang
yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul dan janganlah
kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, sedang
kalian dalam keadaan mengetahui.” (Al-Anfal: 27)
“Tanda-tanda orang munafiq ada tiga: Jika berbicara
berdusta, bila berjanji tidak menepati janjinya, dan apabila diberi amanah
mengkhianatinya.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)
Namun memang, tetap diperlukan dari kalangan
kaum muslimin berani untuk menjadi pemimpin. Menjaga agar kaum muslimin tetap
aman dan nyaman untuk beribadah di negerinya sendiri. Sesuatu yang sepertinya
sulit terwujud bila pemimpin bukan dari kaum muslimin. Benarkah ?
Komentar
Posting Komentar