Langsung ke konten utama

Keutamaan Ilmu atas Harta

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu itu akan menjagamu, sedangkan harta engkaulah
yang menjaganya. Ilmu itu semakin berkembang dengan diinfaqkan, sedangkan harta akan
berkurang jika dinafkahkan. Ilmu adalah yang mengaturmu, sedangkan harta, engkau yang
akan mengaturnya, mencintai ilmu adalah agama yang seorang itu beribadah dengannya.

Ilmu akan membuahkan ketaatan di dalam kehidupan pemiliknya serta mengharumkan
namanya setelah ia meninggal dunia. Kebaikan para pemelihara harta akan melenyap
bersamaan dengan kepergiannya. Para penimbun harta (pada hakikatnya) telah mati
(meskipun) mereka itu masih hidup. Adapun para ulama tetap kekal sepanjang masa. Jasad
mereka telah tiada, namun kenangan tentang mereka senantiasa melekat di hati manusia.”

(Durus fil Qira’ah al-Mustawa ar-Rabi’, hlm. 16)

Sumber: Majalah Asy Syariah no. 70/VI/1432 H/2011, rubrik Permata Salaf.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bersamamu dalam Naungan Ilmu

Akhirnya waktu nya tiba, untukku menyempurnakan separuh dari agama. Tidak lama lagi aku akan memulai episode baru dalam kehidupan bersama kekasih. Membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis memang menjadi dambaan. Namun tentu saja untuk mencapainya bukan persoalan mudah. Butuh kesiapan dalam banyak hal terutama dari sisi ilmu agama. Sesuatu yang mesti dipunyai seorang istri, terlebih sang suami. “Kaum laki-laki (suami) adalah qawwam bagi kaum wanita (istri).” (an-Nisa’: 34). Salah satu tugas suami sebagai qawwam adalah memberikan pendidikan agama kepada istri dan anak-anaknya, meluruskan mereka dari penyimpangan, serta mengenalkan mereka kepada kebenaran. “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (at-Tahrim: 6). Menjaga keluarga yang dimaksud dalam butiran ayat yang mulia ini adalah dengan cara mendidik, mengajari, memerintahkan mereka, dan membantu mereka untuk bertakwa kepada...

Sempurnanya Suatu Amalan

Abu Abdillah An-Nabaji rahimahullah berkata: "Ada lima karakter yang dengannya akan sempurna suatu amalan: (1) keimanan yang disertai pengetahuan yang benar tentang Allah Azza wa Jalla, (2) mengenal al-haq, (3) mengikhlaskan seluruh amalan hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala, (4) beramal sesuai Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan (5) makan dari makanan yang halal. Apabila salah satu dari lima karakter ini hilang, maka tidak akan terangkat amalan-amalannya. Jika engkau mengenal Allah Azza wa Jalla namun tidak mengetahui al-haq, maka tidak ada manfaatnya. Dan andaikata engkau mengetahui al-haq namun tidak mengenal Allah Azza wa Jalla, juga tidak bermanfaat. Dan jika engkau mengenal Allah Azza wa Jalla, mengetahui al-haq, namun tidak ikhlas dalam amalan-amalanmu, maka tidak ada gunanya. Atau, engkau mengenal Allah Azza wa Jalla, mengetahui al-haq, ikhlas dalam amalan-amalanmu, namun tidak sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ma...

Kelembutan Kasih

Rasul yang mulia Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Berwasiatlah kalian kepada para wanita (istri) dengan kebaikan karena mereka itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian yang paling atas. Bila engkau paksakan untuk meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya. Namun bila engkau biarkan begitu saja (tidak engkau luruskan) maka dia akan terus menerus bengkok. Karena itu berwasiatlah kalian kepada para wanita (istri).” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5186 dan Muslim no. 1468) Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Dan bila engkau paksakan untuk meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya. Dan patahnya adalah dengan menceraikannya.” Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-’Asqalani Rahimahullahu berkata: “Sabda Nabi ‘Berwasiatlah kalian’ maksudnya adalah aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik dengan para wanita (istri). Maka terimalah wasiatku ini berkenaan dengan diri mereka, dan amalkanlah.” Beliau melanjutkan: “Dan  dalam...